Iklan



Redaksi
Kamis, 15 Oktober 2020, 23:46 WIB
Last Updated 2020-10-15T15:46:06Z
KRIMINAL

Aksi Kekerasan, Santri Ponpes Al Amanah Melapor Ke Polisi

Advertisement
Ilustrasi Pemukulan (*)

KABARTERKINI.ONLINE, BAUBAU – Seorang santri Pondok Pesantren Al Amanah Kelurahan Liabuku, Kecamatan Bungi, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, menjadi korban kekerasan fisik yang dilakukan seniornya pada Minggu (11/10/2020). 


Akibatnya, korban mengalami trauma dan lebam di pipinya. 


“Keponakan saya kena pukul dari seniornya. Dia melakukan pelanggaran bahasa yang seharusnya menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab, justru menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara dengan temannya,” kata paman korban, Hendra Hakim, saat ditemui di rumahnya, Kamis (15/10/2020). 


Menurut Hendra, awalnya korban tidak mau bercerita perihal kekerasan yang dialaminya.


Namun karena didesak keluarga yang datang menjenguknya di pesantren, baru dia bercerita. 


“Saat berbicara dengan temannya didengar seniornya, sehingga diberikan sanksi, disuruh pegang pipinya dan dipukuli berulang kali,” ujarnya. 


Saat ini korban mengalami sakit pada kedua rahangnya dan pipinya mengalami lebam membiru akibat pukulan. 


“Trauma pasti, kemarin awal-awalnya dia semangat sekali mau belajar agama, namun sekarang dia jadi enggan,” ucap Hendra. 


Hendra menambahkan, kekerasan yang terjadi pada keponakannya baru kali ini terjadi. Namun penuturan dari korban, sering melihat teman-temannya menjadi korban kekerasan fisik dari seniornya. 


Saat ini pihak keluarga telah membuat laporan kepolisi dengan nomor laporan : LP/166/IX/Res.7.4/2020/Sultra/Res.Baubau.


Secara terpisah, Pengasuh Pondok Pesantren Al Amanah Putra, Muizun, membenarkan adanya kekerasan fisik yang dilakukan oleh seorang senior terhadap juniornya.


“Memang itu di luar kontrol kami. Kami berharap kalau ada santri yang merasakan ketidaknyamanan pemukulan, kami harap segera melapor biar kami telusuri dan ambil tindakan,” ucap Muizun.


Saat ini santri yang melakukan pemukulan telah dipanggil dan dikenakan sanksi tidak lagi jadi pengurus di pondok pesantren. 


“Kita sudah membuat surat perjanjian, bila melakukan perbuatan itu lagi maka dikenakan konsekuensi dipulangkan ke orangtua,” ujarnya. 


Menurut Muizun, kekerasan di dalam pondok pesantren yang dilakukan senior terhadap junior baru kali ini terjadi.