Iklan



Redaksi
Sabtu, 12 Desember 2020, 18:20 WIB
Last Updated 2020-12-12T12:49:49Z
KESEHATANNASIONALREGIONAL

Percobaan Klinis Vaksin Tahap III Tidak Terdapat Dampak Sisi Serius

Advertisement


LINTASNEWS.ONLINE, JAKARTA -- Tim Mikrobiologi uji coba Klinis Vaksin Universitas Padjajaran( Unpad) menerangkan percobaan klinis tahap III vaksin Covid- 19 produksi Sinovac yang disaat ini lagi dicoba berlangsung dengan bagus. Sepanjang ini tidak terdapat dampak sisi serius yang timbul pada akseptor vaksin.


"Sejauh ini alhamdulillah dampak sisi dan semacamnya tidak ada yang serius. Benar dampak imunisasi dengan cara biasa saja," tutur tim Mikrobiologi Uji Klinis Vaksin Unpad dokter Sunaryati Sudigdoadi dalam dialog Kontroversi Trijaya, Sabtu (12/12/2020).


Efek imunisasi yang biasa dikenal menurut World Health Organization meliputi demam ringan, lengan yang sakit dan biasanya bersifat sementara.


Sunaryati mengatakan peneliti rutin melaksanakan kontak dan pengecekan kepada para sukarelawan akseptor vaksin. Terdaftar ada 1. 620 sukarelawan yang telah memperoleh 2 dosis vaksin Covid- 19.


Walaupun tidak terdapat dampak samping serius, hasil percobaan coba klinis ini baru dikenal pada akhir Januari mendatang. Alasannya, buat mendapatkan hasil efikasi dan efektivitas vaksin diperlukan pemantauan sampai 6 bulan setelah peserta menerima injeksi vaksin yang kedua.


" Ada 540 sukarelawan pertama akan dievaluasi di akhir bulan ke 6 yakni di akhir Januari. Kita menginginkan warga sabar menunggu," tutur Sunaryati. Dikutip dari CNN Indonesia


Nantinya, sesudah hasil tes coba tahap III diketahui, tim uji klinis hendak memberikan informasi ke Badan POM. Setelah itu, diharapkan Badan POM bisa memberikan izin darurat pemakaian vaksin. Hasil percobaan klinis tahap III juga bakal digabungkan dengan hasil percobaan klinis 6 negara yang lain.


Bila izin edar dan juga sertifikasi halal dari MUI disetujui, vaksin ini bakal langsung didistribusikan oleh Kementerian Kesehatan.


"Kita semua tahun minggu lalu 1, 2 juta dosis telah tiba dan disimpan di Bio Farma. Kita menunggu dari Badan POM dan MUI," tutur Ahli Bicara Vaksin Kementerian Kesehatan dokter Siti Nadia Tarmizi.


Nadia mengatakan vaksin ini hendak diprioritaskan untuk aparat kesehatan, pelayan publik, serta kelompok rentan. Sejauh ini pemberian vaksin yang dijamin pemerintah sebesar 30 persen dan 70 persen mandiri melalui BUMN. (red)