Iklan



Redaksi
Jumat, 19 Maret 2021, 08:05 WIB
Last Updated 2021-03-19T00:05:13Z
OLAHRAGAREGIONAL

Bocah Asal Sidrap Sang Penakluk Gunung Latimojong

Advertisement
Ahmad Dzaki Alfatih


LINTASNEWS.ONLINE, SIDRAP -- Gunung Latimojong merupakan salah satu gunung favorit para pendaki. Selain karena alamnya yang indah, Latimojong yang terletak di Kabupaten Enrekang merupakan bagian dari tujuh puncak tertinggi di Indonesia.


Pegunungan yang berada di utara Provinsi Sulawesi selatan ini memiliki beberapa puncak ,titik tertinggi dari pegunungan ini dinamai Puncak Rante Mario dengan ketinggian 3.430 mdpl. 


Beberapa waktu lalu gunung Latimojong didaki oleh civitas akademik UMS Rappang yang berkolaborasi dengan Paskas Sidrap, mayoritas mereka adalah anak muda dengan stamina yang masih prima. Namun yang menjadi perhatian dalam rombongan terlihat seorang pendaki cilik.


Ahmad Dzaki Alfatih putra dari pasangan Roes Firman dan Rusdiyanti Rasyid, bocah berumur 6 tahun ini sungguh sangat luar biasa, pasalnya anak ini sudah berhasil menaklukkan atap Sulawesi atau Puncak Rante Mario sebanyak 2 kali, dimana pendakian pertamanya saat  berumur 5 tahun  melalui jalur umum atau jalur karangan.


Kali ini saat berumur 6 tahun Ahmad Dzaki Alfatih kembali mendaki bersama ayah dan teman-teman ayahnya melalui jalur merah atau jalur angin angin yang dimana jalur ini mempunyai resiko yang lebih tinggi karna banyaknya jalur setapak dan tebing di selah selah setiap pos. 


Tubuhnya boleh kecil, namun staminanya patut diacungi jempol, bahkan orang dewasa banyak yang kalah kuat dengan bocah asal kota Rappang Sidrap ini.


Dalam pendakian ia tak banyak mengeluh, sesekali Dzaki menggunakan kayu untuk menopang langkahnya, kayu itu ia gunakan di jalur pendakian. Ia tak pernah meminta gendong meskipun berada di jalur-jalur yang sulit.


Dzaki memilih berisitirahat sejenak jika merasa kelelahan dan kemudian melanjutkan pendakian kembali saat sudah mulai merasa kuat.


Roes Firman ayah Ahmad Dzaki Alfatih mengaku ia  mengajak buah hatinya sejak usia 3 tahun untuk naik gunung, bahkan di musim hujan sekalipun.


Sebagian yang tidak mengenal kami secara dekat mencibir, bahkan tak jarang, mengatakan kami orang tua egois, namun tidak sediki pula yang mengapresisasi dan salut, sambungnya.


Tidak lepas dari kontroversi pandangan miring membawa anak mendaki gunung di usia dini biarlah menjadi kisah cerita indah dimasa depan.


Mengajak buah hatinya mendaki gunung bukan tanpa alasan hal tersebut dlakukan untuk membentuk jati diri sendiri dan tidak mudah menyerah dan membangun rasa percaya diri pada buah hatinya.(win)