Iklan



Redaksi
Sabtu, 13 Maret 2021, 09:43 WIB
Last Updated 2021-03-13T01:43:32Z
KESEHATANREGIONAL

Terkandung Dalam Al Qur'an, Ini Tanaman yang Berpotensi Jadi Obat Covid-19

Advertisement
Guru Besar Bidang Farmasetika Universitas Islam Indonesia (UII) Yandi Syukri.


LINTASNEWS.ONLINE, Sejumlah tanaman yang memiliki potensial untuk dikembangkan menjadi obat Covid-19 terkandung dalam Kitab Alquran.


Guru Besar Bidang Farmasetika Universitas Islam Indonesia (UII) Yandi Syukri menyebutkan, data ilmiah dari Alquran belakangan ini meningkat seiring dengan penyelidikan ilmiah modern. 


"Banyak ayat dalam Alquran yang menjelaskan pentingnya tumbuhan,” kata Yandi seperti dilansir dari Antara, Jumat kemarin (12/3/2021).


Menurut Yandi, dari 27 spesies tumbuhan yang disebutkan dalam Alquran dan Hadits, beberapa yang mudah ditemukan yaitu jinten hitam (habatussauda), madu, bawang putih, kurma, labu, zaitun, adas, delima, anggur, kayu arak atau siwak (untuk sikat gigi), bawang merah, tin, jelay, dan jahe.


Di antara tanaman tersebut yang sangat potensial untuk dikembangkan untuk pengobatan Covid-19 yaitu jahe serta jinten hitam (habatussauda).


Yandi menambahkan bahwa salah satu studi pemodelan molekul (molecular docking) untuk memprediksi interaksi protein host-virus di lokasi masuknya SARS-CoV-2 menunjukkan efek penghambatan konstituen jahe (zingiber officinale) sebagai penghambat masuk virus SARS-CoV-2 dengan menggunakan semua protein inang dan asal virus.



Tanaman jahe merupakan suplemen peningkat kekebalan alami serta bahan penyusun formulasi herbal yang direkomendasikan Badan POM sebagai tindakan pencegahan untuk meningkatkan kekebalan tubuh setelah wabah Covid-19.


"Jahe juga dapat menjadi suplemen yang aman dan andal untuk memitigasi Covid-19 untuk mengurangi infektivitas karena juga memiliki aktivitas antibakteri dan pendorong imunitas," katanya


Adapun jintan hitam atau habatussauda, kata Yandi, memiliki aktivitas antivirus, antioksidan, antiradang, antikoagulan, imunomodulator, bronkodilator, antihistaminik, antitusif, antipiretik, dan analgesik.


Saat ini, kata Yandi, pengobatan alami digunakan sekitar 80 persen populasi dunia, terutama di negara berkembang untuk perawatan kesehatan primer. Sebab, dapat diterima secara budaya serta kemudahan akses dan keterjangkauan.


Produk alami yang disebutkan dalam Alquran dan Hadits telah menarik perhatian ahli botani, ahli biokimia, dan farmakognosi, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut


Tanaman yang berkhasiat sebagai imunomodulator, lanjut dia, memainkan peran penting dalam pengobatan infeksi inflamasi, dan imunodefisiensi melalui efeknya pada berbagai sel.


”Mekanisme kerjanya bisa sebagai imunomodulator, imunosupresi, atau imunoadjuvan untuk meningkatkan respons imun spesifik antigen,” ucap Yandi Syukri. (red)