Iklan

Redaksi
Minggu, 13 November 2022, 08:02 WIB
Last Updated 2022-11-13T13:59:14Z
OPINI

Serui, Negeri Sejuta Pesona, Menatap Keagungan Tuhan di Bumi Cendrawasih

Advertisement


Dr. Wahidin Ar Raffany, MA
Pimpinan Pesantren Lapakolongi Sidrap

Hari ini persis 1 bulan setelah kami menginjakkan kaki di Bumi Papua khususnya Kota Serui, sebuah kota kecil yang penuh kenangan.

Kota Serui  terletak di pesisir pantai yang sekaligus menjadi ibu kota Kabupaten Kepulauan Yapen Propinsi Papua Tengah.  Daerah ini dikelilingi pantai karena memang merupakan salah satu pulau terluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Untuk sampai di daerah ini bisa ditempuh melalui jalur laut. Akan tetapi jika ingin perjalanannya lebih singkat waktunya, harus melalui jalur transportasi udara, karena Kota Serui meskipun kecil, daerah ini memiliki Pelabuhan dan  Bandar Udara.

Jika jalur melalui transportasi udara yang dipilih maka kita harus transit di Bandara Frans Kaisiepo di Pulau Biak lalu ganti pesawat yang agak kecil  menyeberang ke Pulau Yapen dan akan mendarat di Bandar Udara Stevanus Rumbewas Serui dengan waktu tempuh 20 menit. Dari Bandar Udara Stevanus Rumbewas kita masih harus naik transportasi darat menuju Kota Serui sekitar 1 jam perjalanan. 

Dari perjalanan yang kurang lebih 1 jam ini dengan menyusuri lereng pegunungan  dan pesisir pantai, di sinilah kita bisa menyaksikan secara nyata karunia Tuhan dengan pesona alam Kab. Kepulauan Yapen yang luar biasa indahnya. Inilah salah satu gambaran dari hadis Rasulullah :

                                    ان اللله جميل يحب الجمال
Artinya :
Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.

Hadis ini memberi inspirasi bahwa kecintaan Allah pada keindahan dapat kita saksikan secara nyata dengan keindahan ciptaan-Nya. Salah satu diantara keindahan dari sekian banyak keindahan itu ada di Kota Serui yang kecil tapi memiliki sejuta pesona.

Diantara pesona alam Serui dapat dijumpai dengan berbagai obyek wisatanya seperti Pantai Sawandori yang indah memukau dengan pasir putihnya, Pantai Mariadei dan Pantai Cinta (China Tua) yang menjadi tempat refreshing warga setelah beraktifitas, semuanya memiliki keindahan yang berbeda. Belum lagi Teluk Manabai yang udaranya sejuk disertai dengan airnya yang jernih hijau kebiru-biruan, menjadi pesona alam yang nikmat dipandang. Namun sayang seribu sayang, kami  belum sempat menikmati kesejukan dan kejernihan airnya karena  waktu yang  terbatas. 

Di Serui juga ada patung raksasa oleh saudara-saudara kita ummat kristiani  yang diberi nama Monumen Kasih disingkat MOKAS. MOKAS dibangun di atas puncak ketinggian dan dikelilingi laut dengan pemandangan yang indah. Dari monumen ini saya menangkap makna bahwa Serui menjadi tempat untuk saling memberi manfaat dan cinta kasih ditengah kemajemukan masyarakatnya.  

Di atas ketinggian tempat ini pun kita bisa memandang  hampir seluruh  pelosok Kota Seru yang indah menawan. Betul-betul pemandangan yang menakjubkan dan patut menambah keyakinan akan  keagungan Sang Pencipta.

                              ربنا ما خلقت هذا باطلا
Artinya;
Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.

Kemajemukan masyarakat Serui juga memiliki pesona tersendiri. Inilah salah satu cerminan Firman Allah dalam Q.S. Al Hujurat : 13

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

Artinya:
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.

Ayat tersebut diatas betul-betul tercermin di Serui. Masyarakatnya sangat beragam dengan latar belakang Suku, Ras dan Agama yang berbeda. 

Berdasarkan penelusuran saya di google dijelaskan bahwa suku asli yang berdiam di Serui adalah suku Ansus. Bahkan disini juga dikenal istilah  Peranakan Cina Serui disingkat PERANCIS. Daerah ini pun kemudian  berkembang setelah didatangi para perantau dengan latar belakang suku Bugis, Makassar, Toraja, Jawa,  Buton dan lain-lain. 

Latar belakang suku yang berbeda ini pun melahirkan latar belakang agama yang berbeda pula. Mayoritas penduduk asli ditambah perantau dari Toraja beragama kristen (katolik/protestan) sedangkan perantau dari Bugis, Makassar, Jawa dan Buton  menganut agama Islam.

Keragaman Suku, Ras dan Agama di Serui tidak pernah menjadi sumber konflik. Perbedaan warna kulit antara penduduk asli dan pendatang tidak menjadi batas pemisah untuk berinteraksi. Sebaliknya perbedaan itu  justeru mereka nikmati dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-.beda tapi tetap satu dalam NKRI. Mereka hidup berdampingan dengan damai dan saling hormat menghormati dalam menjalankan ajaran agama dan kepercayaan masing-masing.

Dan khusus mereka yang beragama islam saya menangkap aurah keseriusan dalam mengkaji dan mempelajari Islam secara dalam. Terbukti dengan antusias mereka dalam mengikuti setiap jadwal ta'lim yang saya laksanakan selama berada di tempat ini. Dan tidak sedikit pertanyaan-pertanyaan berbobot yang mereka lontarkan jika diberi kesempatan tanya jawab. Dan kondisi tersebut saya rasakan hampir sama persis jika saya memberi kuliah pada mahasiswa dan mahasiswi di kampus-kampus. 

Kaum muslimin di Serui nampaknya paham betul bahwa semua manusia sama saja derajat kemanusiaannya, tidak ada perbedaan antara satu suku dengan suku lainnya. Saling membantu satu sama lain, bukan saling mengolok-olok dan saling memusuhi antara satu kelompok dengan lainnya adalah sebuah keniscayaan. 

Mereka nampaknya sadar betul bahwa Allah tidak menyukai orang yang memperlihatkan kesombongan dengan keturunan, kekayaan atau kepangkatan.  Karena sungguh yang paling mulia di antara manusia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Karena itu berusahalah untuk meningkatkan ketakwaan agar menjadi orang yang mulia di sisi Allah.

Inilah sedikit catatan singkat bisa saya lukiskan sebagai bentuk kenangan dalam mengagumi pesona ciptaan Tuhan  setelah berpijak beberapa waktu di Bumi Papua..

Terima kasih kepada warga Mappasirapi yang memfasilitasi kehadiran kami bersafari dakwah. Khususnya Bapak H. Mas'udi Said dan H. Anwar beserta keluarga besarnya.  Begitu  pun pada adinda Ust. Mustamin Abi Mursyidin yang jadi mat comblang kedatangan saya di Serui. Terima kasih pula pada sahabat-sahabat PCNU dan Banom NU Kab.Jep. Yapen.

Saya senantiasa berdoa semoga Bapak dan Ibu semua  warga Mappasirapi dan NU tanpa kecuali senantiasa diberi kesehatan, ditambahkan pemahaman agamanya dan diberi reski yang  penuh berkah serta selalu dalam Lindungan Allah SWT.